Balai langang, Balai gersang, Balai nan hilang

Posted on Updated on

Padang, Ramadhan 1430 H,

Aku adalah kebaikan yang tidak mengenal kejahatan. Aku tidak pernah menyakiti siapapun semenjak aku dilahirkan. Tapi meskipun demikian, aku telah disembelih tanpa tahu dosa apa yang telah aku perbuat. Merobohkanku sama saja dengan melenyapkan keteduhan dan kesejukan di permukaan bumi ini.

Terlahir dan tumbuh di jantung sebuah nagari yang subur dan indah, merupakan sebuah anugerah tiada terkira yang aku rasakan. Di tempat ku berdiri denyut nadi kehidupan begitu terasa, aktifitas kehidupan bermula dan berpusat disini. Balailalang begitulah orang menamakannya, merupakan salah satu balai dari sekian banyak balai yang ada di nagari Saniangbaka, seperti balaibatingkah, balaigadang, dan balaipanjang. Balai secara terminologi berarti pusat keramaian, sedangkan lalang berasal dari kata lalu lalang. Jadi balailalang bisa diartikan dengan pusat keramaian tempat orang berlalu lalang, layaknya Alun-alun “pusat keramaian” di Pulau Jawa.

Disini hidup terasa lebih mudah, tidak pernah aku merasakan kesepian, kekeringan dan kelaparan, apalagi yang namanya busung lapar. Semua kebutuhanku tercukupi disini. Dikakiku mangalir sebuah sungai “penduduk disini suka menyebutnya tangaya yang belakangan menjadi nama panggilan nagari ini selain nama asalnya Saniangbaka” dengan airnya yang jernih, selalu mengalir tiada henti mengalunkan melodi alam yang bis kunikmati setiap saat “walaupun sesekali amukannya mampu

menghanyutkan apapun yang menghalanginya, termasuk rumah-rumah yang berdiri di pinggir tangaya.” Tersedianya sumber air yang berlimpah membuat aku dapat tumbuh dengan baik, sehingga mempunyai tubuh yang besar dan kokoh.

tugu lelang

Sumber foto: facebook Adlim Gani

Semua penduduk disini sangat menyayangiku, setiap hari dan hampir sepanjang waktu mereka dengan setia menemani hari-hariku. Para pemuda sangat senang duduk, tidur, dan bersenda gurau dipangkuanku. Sedangkan di kakiku dibangun sebuah tembok lurus “palanta” sepanjang lebih kurang sepuluh meter kearah selatan, untuk tempat duduk dan maota sambil melepaskan lelah selepas bekerja seharian disawah atau ladang “biasanya lebih sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang sudah tua.” Ditengah-tengahnya berdiri sebuah carano, yang merupakan lambang penghormatan bagi pemuka adat Minangkabau.” Disebelah kanan carano ada dua buah anak tangga sebagai jalan bagi warga yang ingin MCK ke tangaya. Anak-anak dilarang bermain disekitar Balailalang. Kalau ada yang berani mendekat, akan langsung kanai harik untuk segera balik kanan. Suara itu akan tiba-tiba saja muncul, entah itu darimana kakak, mamak, angku, atau abaknya, yang sedang duduk di palanta. Kalau sudah begitu anak-anak tersebut akan lari tunggang langgang menjauh dari Balailalang.

Aku telah ditakdirkan terlahir menjadi pelindung bagi manusia maupun binatang dari panas dan hujan. Bahkan dedemit-pun “menurut keyakinan manusia” suka berlindung dibawah ketiakku. Oksigen yang aku hembuskan bersama teman-temanku sepanjang hari mampu memberikan kesegaran dan kesejukan kepada alam, oleh karena itu aku dijuluki sebagai salah satu paru-paru dunia.

Sampai saat ini aku tidak tahu sudah berapa lama hidup yang telah dijalani. Menurut ota palanta yang sering aku dengar, mereka meyakini umurku sudah ratusan tahun. Tapi sudahlah aku tidak terlalu memperdulikan itu semua, karena akupun ragu dengan semua itu. Bagaimana mungkin mereka bisa memperkirakan umurku, karena mereka hanya anak kemaren sore, yang umuanya baru seumur jagung dan darahnya baru setampuk pinang. Yang jelas aku merupakan salah satu saksi sejarah kelahiran salah satu nagari tuo di Minangkabau.

Tangaya yang mengalir di kakiku menjadi habitat ikan bilih “ikan-ikan kecil yang bergizi tinggi yang hanya hidup di Danau Singkarak dan anak-anak sungai yang mengalirinya, termasuk tangaya”. Layaknya ikan salmon yang hidup di sungai amazone amarika selatan, ikan bilih suka menentang arus air menuju hulu sungai, sesekali menyelinap kebawah bebatuan dari kejaran tangan-tangan mungil yang berusaha menangkapnya.

Tangaya mengalir membelah nagari yang bundar menjadi dua kutub, yaitu barat dan timur. Balailalang pun terbagi menjadi dua, yaitu balailalang barat dan balailalang timur.

Aku berdiri disudut perempatan Balailalang dibelahan timur. Disamping kiri saya terdapat sebuah jembatan hati (titi) yang menghubungkan kutub timur dan barat dengan jalan yang sedikit menanjak. Titi dengan lantai papan, diatasnya tersusun dua baris papan panjang, sebanyak tiga helai perbarisnya sepanjang jembatan, yang disesuaikan dengan ukuran roda oto. Pada masing-masing pangka titi terdapat dua buah tembok miring setinggi satu meter “dengan bagian atasnya berbentuk lancip,” yang biasa digunakan sebagai tempat nongkrong oleh anak-anak muda”.

Dibawah jembatan terdapat sebuah lubuk yang cukup dalam tempat anak-anak mandi, berenang menyeberangi tangaya sambil melawan derasnya arus tangaya, dengan sesekali berloncatan dari tembok yang cukup tinggi disisi barat tangaya. Arus sungai yang deras merupakan tantangan yang ditunggu-tunggu. Sesekali mereka berlari keatas jembatan menguji adrenalin dengan terjun ke tangaya “yang mempunyai ketinggian sekitar enam meter” dengan bermacam-macam gaya, mulai dari gaya salto, patung pagoda, sampai gaya batu yang menghasilkan suara dentuman dan percikan air yang memancur tinggi akibat hempasan punggungnya. Ada juga yang hanya duduk mengambil ancang-ancang untuk terjun, akan tetapi tidak punya keberanian untuk melompat.

Karena letaknya yang strategis, Balailalang dijadikan sebagai pusat bisnis terbesar oleh warga Saniangbaka. Pusat grosir, jasa angkutan, dan aneka jajanan khas tersedia disini. Disisi utara tempatku berdiri ada Toko Kubang yang merupakan pusat grosir yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari warga Saniangbaka, di depannya ada lapau Pak Junin ”yang hanya buka di pagi hari,”. Lapau dengan tenda sederhana, dibawahnya ada sebuah meja dengan dua buah kursi panjang. Dibagian depannya juga ada sebuah palanta yang membelakangi jalan raya. Semenjak sebelum shalat subuh Pak Junin sudah mulai memanaskan air dari kompor gas “angin” di lapaunya untuk seduhan kopi, the manis, dan teh talua untuk pelanggannya. Nikmatnya aroma kopi, dan kocok-an the talua-nya yang khas sudah cukup membuat perutku kenyang setiap pagi, tanpa perlu lagi mencicipinya.

lelang
Sumber foto: facebook Adlim Gani

Diseberang jalan persis didepan lapau Pak Junin, tepatnya didepan tempat saya berdiri, ada pusat pertokoan yang mempunyai tiga petak ruko yang berlantai papan. Disebelah kanan diisi oleh lapau angku kambuik, katan goreng pisang, onde-onde dengan ditemani segelas kopi siap memuaskan selera anda di pagi hari. Disiang hari berubah menjadi restoran, selain itu juga menjadi tempat berleha-leha/tempat mangkal para pengangguran, bujang lapuk, dan pria marando tagang. Ditengah-tengahnya diisi oleh gudang bawang, sedangkan dibagian kiri miso sitomas menjadi pemuas selera pada sore dan malam hari. Disebelahnya ada lapau mak etek, nan bagadincik dek surau bungo balailalang.

Kearah selatan, diujung palanta carano juga terdapat satu buah ruko dengan tiga petak toko. Yang pertama adalah bengkel lukah katik sekaligus SPBU, penjahit kawakan Wan Khaidir dibagian tengahnya, serta paling ujung yang dibatasi oleh sebuah janjang untuk naik kelantai atas diisi oleh lontong sinyun. Lontong sinyun “dengan gulai cubadak yang diselang-seling dengan gulai siam” adalah salah satu kuliner yang mempunyai cukup banyak pelanggan. Karena rasanya yang khas dan nikmat, setiap pagi antrian pelanggan selalu memadati lapaunya, “yang dibagi dua dengan tempat potong rambut mak wan.’ Perantau kalau sudah pulang tidak akan mau melewatkan lontong sinyun “karena rasanya yang khas”, layaknya lontong pitalah”.

Di barat, tepatnya dibelakang tempat ku berdiri “diseberang tangaya,” ada toko pupuk dan bangunan, serta toko kubang 1 yang selain menjual kebutuhan sehari-hari juga berdagang hasil bumi.

Bergeser agak ke utara ada sebuah tanah lapang yang biasa dijadikan anak-anak untuk bermain sepakbola. Walaupun hanya dengan saonggok rumpuik “disalah satu sudut yang berdekatan dengan surau batuang” anak-anak tetap berlarian dengan semangat mengejar dan menendang bola, dengan sesekali meringis kesakitan karena menendang batu yang berserakan dilapangan. Teriakan pemilik rumah dipinggir lapangan, yang merasa terganggu dengan bola yang menerjang dinding dan atap rumahnya merupakan nuansa lain disamping sorakan penonton. Pertandingan akan semakin meriah ketika ada pertandingan antar surau, “inilah uniknya nagari ini, surau bukan hanya menjadi basis untuk mengaji/pertandingan MTQ, tapi juga untuk pertandingan sepakbola.

tsanau

Sumber foto: facebook Adlim Gani

Selain menjadi sentra bisnis, tanah kelahiranku juga menjadi sentra pendidikan, salah satunya adalah makola senaw (Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah) yang dibiayai murni dari swadaya masyarakat di kampung dan di perantauan. Sekolah berbasis muhammadiyah dengan cat warna hijau yang menjadi ciri khasnya ini biasa dipanggil makola. Gedungnya terdiri dari dua lantai, lantai dasarnya dijadikan surau, diatasnya untuk sarana pendidikan, “sekolah senaw disiang hari, dan anak-anak mengaji pada malam harinya.”

Makola layaknya kawah candradimuka generasi muda tangaya, di sekolah inilah cikal bakal intelektual muda tangaya lahir, di subuh hari minggu kegiatan didikan subuh begitu semarak, seperti mengaji, nyanyian, puisi, siang harinya diramaikan oleh anak-anak berseragam biru putih, sedangkan dimalam hari riuh rendah suara anak-anak mengaji membelah keheningan malam.

Yang juga membuatku betah berdiri berlama-lama disini adalah seringnya Balailalang dijadikan pusat hiburan bagi warga Saniangbaka, setiap malam orang-orang ramai menonton TV umum yang berdiri persis di depan saya. Apalagi ketika ada pertandingan bulutangkis yang menampilkan Lim Swie King atau Icuk Sugiato melawan musuh bebuyutannya Yang Yang dari Cina, penonton akan meluber sampai ke jalan dengan tetap duduk dengan tertib. Acara musik yang paling mereka gemari adalah Aneka Ria Safari yang ditayangkan di TVRI setiap malam minggu. Setiap 17 agustus-an panjek pinang, lomba pacu goni, balap sepeda dlsb. Menjadi hiburan tersendiri bagiku.

Disini nuansa religius begitu terasa, setiap masuk waktu shalat, senandung suara adzan akan bergema ke seluruh penjuru angin. Surau-surau yang letaknya saling berdekatan mengisi setiap sudut penjuru angin, “surau batuang dan surau tangah di barat, surau gadang di utara, serta makola dan surau bungo di timur. Gema suara adzannya selalu mengingatkanku akan keagungan illahi dan mensyukuri nikmat yang telah diberikannya. Sebagai tanda rasa syukur, aku akan selalu menyembahnya dengan memiringkan tubuhku kearah kiblat.

Akan tetapi dibalik semua harmoni kehidupan dan keindahan yang tersaji, ada satu hal yang selalu mengganggu pikiranku. Seruan suara adzan dan merdunya lantunan ayat-ayat suci dari orang-orang yang bertadarus di surau-surau tidak membuat penduduk disini merasa sungkan untuk berjudi dan mengeluarkan kata-kata kotor yang sebenarnya sangat sulit aku terima, “bahkan mereka tega melakukan semua itu dipangkuanku.” Terkadang mereka tanpa rasa malu mengencingi kakiku, padahal tangaya hanya berjarak “sejengkal” dari tempat mereka berdiri. Tapi apa daya, rasa sayang ku yang terlalu berlebihan kepada mereka membuatku tidak sampai hati untuk mengusirnya.

Akhir-akhir ini kesedihanku semakin bertambah. Dari bisik-bisik yang aku dengar, ditempatku berdiri saat ini akan dibangun sebuah jembatan besar dan megah. Mereka menganggap jembatan yang ada saat ini sudah tidak layak lagi untuk digunakan. Bis dan truk yang berukuran besar selalu kesulitan melewati jembatan dari arah barat, karena ukurannya yang sempit, dengan tikungan tajam, dipangkal jembatan. Tidak jarang kendaraan besar tersebut tersangkut dan tergores oleh ujung besi pembatas jembatan, dan kalau perlu mereka terpaksa berputar ke tanah lapang untuk kemudian mencoba peruntungan masuk dari arah utara yang sedikit lebih lapang.

Hal ini makin lama semakin ramai saja dibicarakan. Aku merasa sedih, karena kalau rencana ini terlaksana, yang pasti aku akan dikorbarkan. Hari-hariku menjadi murung, hidupku terasa hampa, perlindungan dan kesejukan yang selama ini aku berikan, seolah-olah tidak ada artinya dan tidak berbekas sama sekali dibenak mereka.

Pada suatu malam yang dingin ditengah angin yang berhembus kencang hatiku merasa sedih, aku merasakan bahwa inilah malam terakhirku berdiri disini. Pengabdian yang sudah ratusan tahun aku jalani akan segera berakhir. Seorang pemuda bernyali besar telah ditunjuk untuk melenyapkanku.

Aku tidak tahu siapa namanya, tubuhnya sedikit kuyu, bicaranyapun tidak jelas “teloa kecek urang tangaya e”, tapi darimana dia punya keberanian untuk merobohkan tubuhku yang kokoh dan besar. Padahal sebagian besar penduduk disini meyakini ditubuhku bersemayam sebangsa jin dan makhluk halus lainnya yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan orang-orang yang berani menggangguku “sebuah kepercayaan yang sungguh menyesatkan.”

Saatnya pun tiba, secara perlahan-lahan dengan kampaknya yang tajam, orang tersebut mulai menggerogoti dan mencabik-cabik akarku, sedikit demi sedikit darah mulai mengalir, urat-urat dikakiku satu persatu mulai putus. Dia begitu bersemangat mengayunkan kampaknya yang tajam dan mengkilat. Perih dan sakit yang aku rasakan tidak diperdulikannya. Setiap hari selama hampir satu bulan lamanya degan sabar dia terus memutilasi tubuhku. Kondisi tubuhku semakin melemah, tak sanggup lagi rasanya kaki ini menopang tubuhku yang tinggi besar. Pandanganku sudah mulai berkunang-kunang, kepala pusing, dalam kondisi sekarat sayup-sayup terdengar sorak-sorai orang-orang yang selama ini selalu berlindung dan menghabiskan hari-harinya dipangkuanku “seolah tidak tahu berterima kasih” meneriakkan hidup caplambin, hidup caplambin, ya… akhirnya aku tahu, rupanya caplambin nama orang yang telah mengakhiri hidupku. Setelah itu semuanya menjadi gelap, tubuhku ambruk dia dengan leluasa memotong-motong bagian tubuhku menjadi berkeping-keping.

Kini tempatku sudah digantikan oleh sebuah tembok beton yang kokoh sebagai penyangga rangkaian besi baja yang sambung menyambung menyeberangi tangaya. Keangkuhannya telah memudarkan pesona Balailalang. Tidak ada lagi kesejukan, keteduhan dan kenyamanan, yang ada hanyalah kegersangan dan debu yang beterbangan dari hembusan angin setiap kendaraan yang lewat. Pesona dan rona Balailalang telah runtuh, Balailalang yang dulu rindang dan ramai dikunjungi penduduk, sekarang sudah berubah menjadi gersang, sepi layaknya kota mati. Roda kehidupan tidak berjalan lagi sebagaimana mestinya.

Langang itulah kata-kata yang selalu terucap setiap perantau pulang kampung, mereka kebingungan tidak tahu lagi kemana harus duduk maota sambil malapeh salero jo taragak. Tidak ada lagi Batang Kubang yang selama ini menaungi dan memberi kesejukan, tidak ada lagi palanta carano, lapau-lapau sudah pudua. Yang tersisa hanyalah kegersangan. Hujan seakan-akan enggan menghampiri nagari ini, membuat tangaya menjadi kering, air yang mengalir tidak mampu lagi menghanyutkan sampah-sampah yang berserakan, ikan bilih sudah berangsur punah.

Siang paneh barangin menyegat kulit, malam dingin menusuk tulang. Apakah ini azab akibat nagari yang salah urus. Penduduknya kehilangan teladan dan pegangan karena pemimpinnya sibuk memikirkan perutnya yang semakin membuncit, terlena dengan nikmatnya kursi empuk, sehingga lupa akan janji-janjinya. Ulama menghilang entah kemana. Harmoni kehidupan sudah porak poranda.

Andai masih ada Batang Kubang, Balailalang tidak akan berubah menjadi balai langang, balai gersang, balai nan hilang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s